Tasikmalaya – Ahmad Rif’an Khoirul Lisan, pria asal Pleret Bantul, Yogyakarta, pernah menghadapi penolakan dari ayahnya sendiri ketika memutuskan untuk kuliah. Rif’an diterima di Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada (UGM) pada 2012, namun sang ayah menentang keputusannya karena alasan ekonomi. Dengan enam adik yang masih kecil dan kedua orang tua yang memiliki penghasilan terbatas—ayah sebagai guru mengaji panggilan dan ibu sebagai ibu rumah tangga—orang tua Rif’an merasa tidak mampu membiayai sekolah tinggi anak-anaknya.
Meski demikian, Rif’an tetap gigih mengejar pendidikan. Bagi Rif’an, kuliah bukan sekadar mimpi pribadi, melainkan juga cara untuk membantu keluarga dan membuka peluang hidup lebih baik bagi adik-adiknya. Sejak bangku sekolah hingga kuliah, ia terbiasa mencari pekerjaan sampingan untuk menopang kehidupan sehari-hari.
Hari-hari awal di UGM tidak mudah. Rif’an mendapat beasiswa Bidikmisi yang membantu kebutuhan sehari-hari, tetapi ia tetap harus mengatur keuangan dengan cermat. Ia aktif di berbagai organisasi kampus, sebagian untuk memperluas jaringan, dan sebagian lagi karena alasan sederhana: bisa ikut makan saat ada kegiatan kepanitiaan. “Saya suka ikut kegiatan karena tahu ada konsumsi,” kenangnya sambil tersenyum.
Di saat kondisi keuangan terbatas, Rif’an harus sangat berhemat untuk makan. Dengan uang sekitar Rp 4.000, ia biasanya membeli nasi, sayur, dan satu gorengan. “Yang penting makan,” ujarnya.
Usaha dan ketekunan Rif’an membuahkan hasil. Ia berhasil menyelesaikan S1 di UGM, melanjutkan S2 di Amerika Serikat, dan kini sedang menempuh jenjang doktoral di Belanda, berkat dukungan beasiswa LPDP yang memfasilitasi pendidikan lanjutannya. Perjalanan Rif’an menjadi inspirasi bagi generasi muda bahwa tekad dan kerja keras mampu mengatasi keterbatasan awal kehidupan.


